Latest News
Kamis, 05 Desember 2019

Beragama Yang Mencerahkan

foto mengaji siswa-siswi SMK Muhammadiyah Banjarsari (ciamismu.cm)


Surat al-Baqarah ayat 30 mengisyaratkan bahwa Allah SWT akan menciptakan pemimpin di muka bumi. Pemimpin yang dimaksud adalah makhluk bernama manusia yang diamanahkan Tuhan dengan berbekal akal dan wahyu, dan bertugas untuk menyebarkan nilai-nilai ketuhanan di muka bumi. Berbuat keadilan, menebarkan kasih sayang kepada sesama makhluk, serta menjaga kelestarian dan keteraturan bumi ini.
Namun manusia tetaplah makhluk yang disebut sebagai Insan, yakni tempatnya salah dan lupa, sehingga terkadang manusia yang diciptakan menjadi khalifah justru abai dan lupa, bahkan pengetahuannya belum mencukupi, sehingga terkadang kurang benar dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah.
Fenomena beragama masyarakat terutama yang beragama Islam akhir-akhir ini lebih banyak mengutamakan simbol dan sering mengabaikan esensi. berIslam yang mereka maksud hanya dibatasi dengan pakaian dan pernik-pernik lain yang itu dianggap sebagai esensi dari agama. berIslam hanya mengutamakan pemeliharaan jenggot, bercelana cingkrang dan pemakaian peci serta menggunakan pakaian ala-ala bangsa Arab. Hal demikian sudah dianggap sebagai hal yang paling Islami dan paling menjalankan sunnah.
Lebih jauh lagi, mereka mempelajari fiqih hanya 1 mazhab dan sering sangat tekstual. Sehingga orang lain yang berbeda dianggap salah dan hanya kelompoknya yang paling benar. Padahal semua ulama bahkan para sahabat adalah manusia biasa yang tetap memiliki kemungkinan untuk salah, maka seharusnya tidak perlu terlalu fanatik dan tak perlu menyalahkan orang lain yang berbeda.
Fenomena yang demikian akan melangkah maju pada tahapan yang lebih jauh dan mengerikan, yaitu saling menyesatkan bahkan menghalalkan darah saudara seimannya. Padahal kita tahu, satu-satunya manusia yang diperbolehkan membunuh hanyalah nabi Khidir ketika menguji kesabaran Musa untuk menjadi muridnya.
Feomena yang selanjutnya, dalam beragama, umat Islam lebih cenderung beribadah hanya tataran ibadah mahdhah, atau menjaga hubungan baik dengan Allah, namun lupa akan hubungan dengan manusia (hablun minannas). Umat Islam pada saat ini lebih mencermati surat al-Jum’ah ayat 9, tapi mengabaikan ayat 10.
Dalam surat al-Jum’ah ayat 9, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk melaksanakan ibadah mahdhah yakni solat jum’at dan di ayat 10 diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi setlah menyelesaikan solat jum’at. Tentu saja selain mencari anugrah dari Allah, orang-orang beriman diperintahkan untuk memperbanyak berdzikir dan berdakwah dalam bertebaran di muka bumi, serta menjalankan tugasnya menjadi khalifah fil ard, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Dalam surat Ibrahim ayat 24-25, seorang muslim seharusnya ibarat sebuah pohon keimanan. Pohon yang senantiasa memberikan manfaat yang banyak, buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya, dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung, daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat, dan akarnya yang kokoh dapat menyimpan persediaan air untuk bumi ketika tandus.
Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa selain beribadah kepada Allah, seorang muslim juga harus memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya. Dalam fiqih juga bila disadari ada beberapa aspek yang menunjukan bahwa Islam sangat peduli dengan sosial; bila seorang muslim tidak mampu melaksanankan puasa maka gantinya adalah memberikan makan pada orang lain, pun juga bila kita sedang dalam urusan tertentu seperti halnya safar, solat kita boleh diperpendek (qashar) dan ketika dalam ibadah haji melanggar kewajiban haji maka diharuskan untuk membayarnya dengan penyembelihan kambing.
Dalam beragama, Kuntowijoyo memberikan sebuah gagasan berupa paradigma profetik. Gagasan profetik tersebut berpijak dari surat Ali Imran ayat 104, yakni prasyarat ummat terbaik: humanisasi (ta’muru bil ma’ruf), liberasi (tanhauna ‘anil munkar), dan transendensi (tu’minu billah).
Menurut Kuntowijoyo, menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf) tidak hanya dalam konteks individual melainkan harus ditransformasikan dalam konteks sosial budaya. Amar ma’ruf merupakan emansipasi manusia kepada fitrahnya yakni pada posisinya sebagai makhluk yang mulia.
Kuntowijoyo menyebutnya dengan istilah humanisasi teosentris, yaitu kembalinya manusia pada fitrahnya sebagai makhluk Allah yang diberi tanggungjawab untuk mengelola bumi. Humanisasi berarti menebarkan kebaikan yang berpijak pada keadilan. Misi dari humanisasi adalah menempatkan manusia sebagai khalifah fil ard (pemimpin di muka bumi) yang senantiasa menjalankan misi keadilan.
Kedua yakni liberasi (nahyi munkar atau mencegah kemungkaran). Secara sosial, nahyi munkar adalah pembebasan manusia dari penindasan manusia yang lain yang memiliki kekuatan yang lebih, baik dalam aspek ekonomi maupun aspek fisik, dan pembebasan dari segala bentuk kegelapan (zhulumat): kemiskinan, kebodohan keterbelakangan dan sebagainya.
Spirit pembebasan tersebut lebih banyak merupakan sebuah kritik atas keadaan sosial yang terjadi di Indonesia. Tulisan-tulisannya banyak yang merupakan kritik atas realitas sosial yang terjadi, seperti sejarah sosial Indonesia yang diwarnai dengan praktik-praktik eksploitasi kapital.
Poteret penindasan yang Kuntowijoyo soroti adalah bentuk oligarki antara pemodal besar dengan negara. Oligarki ini menelurkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada pemodal besar yang menjadikan para pemodal besar dapat sangat mudah menjalankan roda ekonominya. Namun hal tersebut menyebabkan akses rakyat atas ekonomi menjadi terhambat, alhasil rakyat menjadi miskin dan tertindas. Mereka yang tertindas dengan kondisi ini Kuntowijoyo sebut sebagai dhuafa dan mustadh’afin; orang yang tertindas oleh sistem.
Adapaun yang ketiga yakni transendensi (tu’minu billah). Transendensi diartikan sebagai pengembalian segala sesuatu pada hakikat yang paling mendasar yaitu Allah SWT. Namun gagasan tauhid ini tidak hanya pada level teologis, melainkan harus juga diterjemahkan melalui langkah-langkah sosial yang konkrit.
Tauhid sosial mengejawantahkan tauhid dalam semua dimensi kehidupan. Menurut Amin Rais, tauhid sosial merupakan dimensi sosial dari konsep pengesaan Allah secara mutlak sehingga pemahaman yang dimiliki adalah semua manuisa sama derajatnya, maka tidak dibolehkan manusia menindas manusia yang lain, dan keadilan diantara manusia harus ditegakkan
Implikasi yang diharapkan dari tauhid sosial adalah terbentuknya manusia tauhid yang mampu berfikir dan bertindak secara tauhid dan syari’ah, sehingga tercipta ketraturan dan keadilan. Tauhid harus ditransformasikan dalam bentuk akhlak dan etika sosial. Etika tersebut tidak hanya diwujudkan dalam aktivitas berinteraksi dengan individu, melainkan juga dalam ruag publik.


Penulis:
Adi Irfan Marjuqi, aktivis PCPM Banjarsari dan Dosen STIKes Muhammadiyah Ciamis.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Beragama Yang Mencerahkan Rating: 5 Reviewed By: Admin Sambil Ngaji