Latest News
Sabtu, 14 Desember 2019

Jalan Dakwah yang Mempersaudarakan


CIAMISMU.COM – Beberapa hari ini sempat viral seorang anggota ormas kepemudaan Islam yan dipaksa mengucapkan takbir dan langsung distempel kafir karena enggan melakukannya. Di satu sisi kita juga pernah disuguhkan oleh realita keagamaan yang sama tapi dalam bentuk yang berbeda. Dimana sebuah kelompok kepemudaan yang sama melakukan penolakan terhadap ustadz kondang di youtube dengan alasan menyebarkan ideologi yang merongrong NKRI.
Dua contoh di atas setidaknya menjadi gambaran tentang realita keberislaman yang saling bergesekan, bukan yang saling mempersaudarakan. Diksi paling islami, paling NKRI, paling  nyunnah, dan paling lain rasa-rasanya menjadi komoditas yang digoreng untuk memisahkan persaudaraan.
Bahkan semangat berjama’ah dalam bingkai organisasi atau bingkai lainnya terkadang oleh sebagian pihak hanya digunakan sebagai tempat bersembunyi untuk menyerang sesamemuslim. Padahal jelas bahwa organisasi atau jamaah itu merupakan kendaran yang digunakan untuk menyampaikan dakwah Islam.
Hanya saja, satu hal yang harus menjadi pemahaman bersama adalah adanya kristalisasi ideologi dimasing-masing kendaraan dakwah tersebut. Kristalisasi ideologi tersebut bukan membuat tandingan atau sempalan dari Islam yang universal. Tetapi sebagai khazanah keislaman dan jalan dakwah yang berbeda.
Perbedaan tersebut pada dasarnya tidak harus selalu dihadap-hadapkan satu sama lain, tapi dicari jalan yang mempersaudarakan. Sehingga perbedaan diantara umat Islam tidak menjadi jurang pemisah, tapi mempersaudarakan. Layaknya kakak adik yang bersaudara tapi berbeda kecenderungannya.
Sikap Rendah Hati sebagai Kunci
Jalan dakwah yang mempersaudarakan tersebut harus disadari bersama dan diupayakan bersama. hal yang pertama harus disadari dan diupayakan adalah soal sikap rendah hati.
Sikap rendah hati yang dimaksud adalah sikap dasar yang bisa menghilangkan fanatik buta karena didasarkan oleh kesombongan. Dimana kesombongan itu bisa menjangkit musim melihat dirinya ataupun kelompoknya sebagai kebenaran.
Semangat rendah hati itulah yang harus diwujudkan dalam kesadaran akan posisi kebenaran hanya milik Allah swt. Manusia hanya bisa berupaya tanpa henti untuk terus belajar dalam menggali kebenaran daam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana firman Allah:
Kebenaran itu bersumber dari Tuhanmu, maka jangan sekali-kali termasuk golongan yang ragu (QS. Al-Baqarah: 147).

Sehingga sikap  rendah hati yang dibangun bukan dari subjekifitas seseorang atau kelompok, tapi dibanugun dari argumentasinya. Harapannya  akan muncul keterbukaan pemikiran bahwa kebenaran itu bisa bersumber dari orang lain, sedangkan kita hanya sebatas berusaha.
Bijak Menyampaikan Dakwah
 Adapun saat menyampaikan dakwah itu bukan soal gagah-gagahan, tetapi soal esensi keislaman yang tersampaikan dan dapat diaplikasikan di masyarakat. Pemilihan kata dan praktek dakwah yang bijak senantiasa menjadi kunci kedua bagaimana jalan dakwah itu mempersaudarakan.
Kisah Pak AR Fakhruddin bisa menjadi inspirasi bagaimana dakwah bisa disampaikan tanpa harus beradu urat syaraf dengan masyarakat.
Almarhum Mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut di usia mudanya pernah diutus persyarikatan untuk berdakwah di Ulak Paceh, Palembang. Di desa tersebut ternyata terdapat ulama yang disegani, namun agak sinis terhadap Muhammadiyah. Namun, bukan berarti AR muda menjadi patah semangatnya.
Setiap Pak AR bertemu dengan Ulama tersebut, ia selalu menyampaikan salam lebih dahulu, sayangnya salamnya tidak pernah dijawab. Hingga suatu saat, kegigihan pak AR menyampaikan salam lebih dahulu membuahkan hasil. Sang Ulama membalas salam dengan sempurna, bahkan dengan senyuman.
 Senang ketika dibalas dengan baik, AR Muda langsung meraih tangan Ulama tersebut untuk menjabat tangan sambil tersenyum penuh persaudaraan.  Selanjutnya, terjadi pembicaraan yang hangat. Hingga samapi kepada kesimpulan Pak AR diminta untuk memimpin yasinan menggantikannya.
Pak AR dengan senang hati menyanggupinya, walaupun dalam hati masih kebingungan karena selama ini belum pernah diajarkan yasinan. Hingga tiba waktu untuk memimpin yasinan, AR muda telah siap dengan memikirkan solusi yang relevan.
Di hadapan para jamaah yasinan, ia nampak memimpin ritual itu dengan gaya berbeda dari biasanya. Setelah dibacakan ayat demi ayat, Pak AR meminta salah satu jamaah untuk menerjemahkan beberapa ayat di awal surat yasin. Hal itu dilakukan karena mayoritas jamaah telah hafal nglotok surat Yasin.
Berhubungan jamaah yang diminta tersebut tidak bisa, begitu juga jamaah lainnya tidak sanggup. Pak AR yang menerjemahkan sendiri sebari menjelaskan tafsirnya. Hal ini ternyata menarik bagi masyarakat dan diperbolehkan oleh ulama tersebut. Hingga dari pertemuan ke pertemuan, yasinan gaya Muhammadiyah yang diperkenalkan pak AR tidak terbatas pada surat yasin. Terus beranjak ke kajian tafsir surat lainnya.
Begitulah dakwah itu dijalankan secara kultural dan sistematis sehingga esensi keislaman bisa tersampaikan tanpa harus bententangan dengan masyarakat.
Sikap rendah hati dan tidak cenderung mempertentangkan secara frontal merupakan jalan yang bijak. Tentunya tanpa mengrangi esensi ataupun bertentangan dengan batasan yang diyakini. Sehingga perbedaan jalan dakwah itu tidak dilihat hanya dari kacamata benar salah, tapi dialogis yang terbuka. Serta harus disampaikan dengan penyampian yang bijak pula.
Semoga dari dua hal tersebut bisa menjadi bahan bagaimana menjalani dakwah yang mempersaudarakan bukan saling memisahkan.
Penulis: Waskito Hartono, Wakil Ketua pengkajian Islam PD Pemuda Muhammadiyah Kab Ciamis.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Jalan Dakwah yang Mempersaudarakan Rating: 5 Reviewed By: Redaksi Ciamismu