Latest News
Rabu, 11 Desember 2019

UNIVERSALISME ISLAM

ciamismu.com


CIAMISMU.COM - Sebagai manusia yang memeluk agama Islam, kita sering mendengar dan yakin bahwa Islam shahih li kulli zaman wa makan (sesuai di segala zaman dan tempat). hal ini juga dibuktikan dengan luasnya cakupan pemeluk agama Islam dan mencakup banyak sekali ras, suku, dan bangsa.

Universalisme Islam telah menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting berbagai bidang ajaran Islam, yang meliputi hukum agama (figh), keimanan (tauhid), etika (akhlaq), dan sikap yang menampilkan kepedulian besar kepada unsur-unsur kemanusiaan (al-insaniyah). Seperti prinsip-prinsip persamaan derajat di muka hukum, perlindungan warga masyarakat dari kezaliman, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan, penjagaan terhadap hak-hak mereka yang lemah dan menderita kekurangan, serta pembatasan atas wewenang para pemegang kekuasaan. Semua itu menunjukkan keberpihakan Islam terhadap nila-nilai universal yang diimbangi keterbukaan terhadap berbagai wujud peradaban manusia.
Nilai-nilai universal serta sifat keterbukaan terhadap budaya membuat kaum Muslim selama sekian abad dapat menyerap segala macam wujud budaya dan wawasan keilmuan yang dating dari berbagai bangsa di sekitarnya, baik yang bersentuhan langsung dengan Islam ataupun yang telah mengalami penyusutan luar biasa (seperti peradaban Persia dan Yunani). Kearifan yang muncul dari proses saling pengaruh-mempengaruhi antar peradaban yang dikenal ketika itu telah menjadikan budaya Islam bergerak maju dan kosmopolit.

Kosmopilitanisme budaya tidak akan berakar kuat bila tidak ditunjang oleh universalisme. Universalisme merupakan landasan konseptual untuk mewujudkan kosmopolatisme budaya. Karena itu dua persoalan tersebut baik dibahas dalam satu kesatuan yang utuh, mengingat yang satu merupakan dataran konsep ideal sedangkan yang lain merupakan yang merupakan perwujudan/implementasi/ penrapan nyata dari konsep yang ideal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam keragaman budaya termasuk seni, agama, politik, ekonomi, bngunan fisik dan sebagainya.

Kata universalisme berasal dari baha latin, universum, yang berarti alam semesta. Kata ini dibentuk dari kata universalitas yang berarti umum, mencakup semua, dan menyeluruh. Dalam bahasa inggris kata tersebut berubah menjadi universal. Kata universal ini dapat berarti konsep umum yang dapat diterapkan pada kenyataan, misalnya konsep kemanusiaan yang dapat diterapkan pada seluruh manusia apapun status sosial, warna kulit, ras dan agamanya.
Istilah universalisme Islam muncul melalui beberapa hal, yang pertama dan mendasar; munculnya istilah tersebut ialah dari terminologi Islam itu sendiri. Sikap pasrah kepada tuhan yang tidak hanya dilakukan oleh manusia, bahkan benda-benda yang tidak memiliki ruh seperti langit, bumi dan yang lainnya juga memasrahkan atau menyerahkan diri kepada Allah SWT dan sikap itu muncul dari dalam dirinya sendiri tanpa pengaruh dan paksaan dari luar.

Agama dalam bahasa arab menggunakan kata al-diin yang secara harfiyah berarti ketundukan, kepatuhan atau ketaatan yaitu sikap yang sah dari dalam diri manusia untuk taat kepada Allah. Maka tidak akan ada agama tanpa sikap itu, yaitu keagamaan tanpa sikap kepasrahan kepada Allah SWT.

Dari prinsip-prinsip di atas, maka semua agama yang benar pada hakikatnya adalah “al-Islam” yaitu semua ajarannya bersifat pasrah kepada sang pencipta yaitu Allah SWT.  Al-Qur’an berulang kali menyebutkan bahwa agama para Nabi sebelum Muhammad saw adalah al-Islam yaitu semua ajaran para nabi terdahulu juaga inti ajarannya adalah pasrah kepada Allah SWT.

Secara jelas dituturkan dalam Al-Qur’an bahwa yang menyadari sikap al-islam atau pasrah kepada Allah adalah nabi Nuh. Dijelaskan bahwa Nuh mendapat perintah Allah untuk menjadi seorang yang muslim, yaitu pelaku dan bersifat al-Islam dan pasrah kepada tuhan seperti dalam QS. Yunus 71-72

Al-Islam tumbuh lebih kuat dan tegas pada zaman Nabi Ibrahim. Sepertihalya Nuh, Nabi Ibrahim juga diperintahkan untuk berislam. Dijelaskan dalam QS albaqarah ayat 121 yang artinya: “ingatlah ketika Tuhannya (Tuhan Nabi Ibrahim) berfirman kepadanya “pasrahlah engkau (aslim) aku pasrah kepada engkau, tuhan seluruh alam.” Agama yang benar dengan inti ajarannya yaitu pasrah terhadap Allah kemudia diwasiatkan kepada keturunannya Ibrahim. Salah satu garis keturunannya itu adalah Nabi Yakub. Wasiat Ibrahim dan Yakub menjadi dasar agama-agama Israil yang sampai sekarang masih bertahan yaitu agama Yahudi dan Kristen.

Dari sini juga dapat kita simpulkan bahwa agama Yahudi dan Kristen berpangkal pada ajaran berpasrah kepada Tuhan atau berislam, karena merupakan kelanjutan dari agama Ibrahim. Bahwa agama yahudi juga pada dasarnya mengajarkan al-Islam yaitu dijelaskan dalam penuturan Al-Qur’an mengenai kitab suci taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa untuk anak turunan Israil.: “sesungguhnya Kami telah menurunkan taurat, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, dan dengan kitab suci itu para nabi yang pasrah (ber-islam), serta para pendeta serta para ahli kitab menjalankan hukum untuk mereka yang menganut agama yahudi, berdasarkan kitab Allah yang mereka diwajibkan memeliharanya, dan mereka itu semua menjadi saksi. (al-Maidah: 44)

Begitu pula dengan Nabi Isa atau biasa disebut Al-Masih putra maryam, beliau membawa ajaran pasrah kepada Tuhan yang maha esa. Sebagaimana dalam Al-qur’an dijelaskan tentang ajakan Isa kepada kaumnya seperti berikut:

Dan tatkala Isa mndaptkan pembangkangan dari kaumnya, ia berkata: “siapa yang akan menjadi pendukungku menuju Allah?’ alhawariyyun (pengikut nabi Isa) menjawab: “kami para pendukung Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang pasrah (musimun). (QS: Ali Imran: 32)

Dan ingatlah ketika kami mwahyukan kepada alhwariyyun, berimanlah kamu sekalian kepadaKu dan kepada rasulKu (Isa) mereka menjawab kami beriman dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang pasrah (Muslimun). (QS: Almaidah: 111)

Karena berpasrah kepada Allah merupakan inti dari semua ajaran agama yang benar, maka al-Islam atau pasrah kepada Allah adalah pangkal adanya hidayah Ilahi kepada seseorang. Maka al-Islam menjadi landasan universal kehidupan manusia, berlaku untuk setiap orang, di setiap tempat dan waktu.

Sikap pasrah kepada tuhan sebagai unsur kemanusiaan yang alami dan sejati, kesatuan keabian dan ajaran untuk semua umat dan bangsa, semuanya itu menjadi universalisme ajaran yang benar dan tulus, yaitu al-Islam. Ini juga yang mendasari adanya universalisme Islam yang dibawa oleh Muhammad.

“Islam” memang telah menjadi nama sebuah agama, yaitu agama yang dibawa oleh Rasul penutup. Namun ia bukan sekedar nama, tapi nama yang tumbuh karena hakikat dan inti ajaran agama itu, yaitu pasrah kepada Tuhan. Dengan demikian pengikut Muhammad adalah seorang muslim yang dengan sadar  memahami hakikat islam itu sendiri. Karna kesadaran yang hakiki itu maka Islam selamanya mempunyai implus universalisme, yang selanjutnya tercermin dalam kultur yang berwatak kosmopolit.

Penulis: Ade Irfan Marjuqie, Dosen STIKes Muhammadiyah Ciamis dan Aktivis PC Pemuda Muhammadiyah Banjarsari, Kab Ciamis

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: UNIVERSALISME ISLAM Rating: 5 Reviewed By: Admin Sambil Ngaji