Latest News
Senin, 23 Maret 2020

APAKAH STRES DAPAT MENURUNKAN IMUNITAS ?



CIAMISMU.COM - Wabah covid 19 menimbulkan dampak yang luar biasa di seluruh dunia. Media mainstream, media social, newspaper, media televisi di seluruh dunia mengabarkan jumlah orang-orang yang ODP (Orang dalam Pemantauan), orang positive covid 19 dan yang mengalami kematian. Bagaimana mungkin masyarakat tidak mengalami kepanikan. Setiap waktu baik jam, menit bahkan detik kelompok grup media sosial seperti grup WA dimana masing-masing anggotanya menginformasikan berita terkini tentang corona virus, dan luar biasanya hal ini menyita waktu dan tanpa disadari menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Output dari kecemasan tersebut berwujud pada aksi nyata yaitu langkanya masker, handsanitaizer serta langkanya empon-emponan di pasaran.

Ditambah lagi trauma terhadap pandemi (wabah besar) penyakit menular sebelumnya seperti SARS (evere acute respiratory syndrome) pada tahun 2003 bahkan kasus Flu burung terbukti meningkatkan morbiditas dan mortalitas di wilayah geografis yang luas dan menyebabkan gangguan ekonomi, sosial, dan politik yang signifikan.

Tetapi memang tidak bisa kita pungkiri ternyata ada juga masyarakat yang tenang-tenang saja menghadapi wabah ini terutama di daerah kota-kota kecil yang temuannya masih sedikit.

Bagaimanakah dampak dari kepanikan terhadap imunitas? Bagaimana stres "dapat memengaruhi respons kekebalan ? Ini menjadi pertanyaan yang harus dijawab dengan segera.

Secara umum jika kita search melalui google Wikipedia, pengertian imunitas terkait dengan pertahanan pada organisme untuk melindungi tubuh dari pengaruh biologis luar dengan mengenali dan membunuh patogen terlihat dari respon imun berupa respon kolektif dan terkoordinasi dari sistem imun tubuh terhadap pengenalan zat asing.

Berdasarkan metanalisis yang dilakukan oleh Segerstrom Suzanne C and E (2004) menyimpulkan bahwa stress yang dialami oleh manusia umumnya merupakan tekanan dari lingkungan yang menyebabkan timbulnya prilaku adaptif berupa menyerang atau mundur dengan tujuan mencari keselamatan atau yang dikenal dengan istilah “fight or flight reaction’ yang merupakan efek stimulasi saraf simpatis. Hal ini dipicu secara fisiologis oleh meningkatnya oksigen dan asupan  glukosa pada jantung dan otot rangka.

Stres menghasilkan  dua aksi yang berlawanan pada sistem imun tubuh, pada beberapa kasus dapat menurunkan kekebalan tubuh tetapi juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Peningkatan kekebalan tubuh dialami pada saat mengalami stres akut  memicu terjadinya peningkatan sel dendritik, neutrofil, makrofag, dan perlintasan limfosit, pematangan, dan fungsi dari respons imun bawaan dan adaptif. Bentuk dari respon tersebut adalah ekspresi imunoproteksi atau imunopatologi. Sebaliknya stress kronis dapat menurunkan kekebalan tubuh contohnya dapat kita temukan pada pasien yang mengalami kanker (2).

Beberapa hal yang mungkin dapat kita garis bawahi adalah ketakutan dan kepanikan atas wabah covid 19 secara positif dapat menimbulkan potensial stress akut yang berujung pada prinsip penyelamatan diri yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dengan beberapa aksi penyelamatan yang dapat dilakukan. Tetapi tanpa kita sadari bombardir media saat ini memungkinkan terjadinya stress kronik.

Stres dapat mengerahkan berbagai tindakan pada tubuh mulai dari perubahan homeostasis hingga efek yang mengancam jiwa dan kematian (3). Kerentanan terhadap stres bervariasi pada setiap individu akibat pengaruh genetik, tipe kepribadian, dan dukungan sosial. Stres yang berkepanjangan memungkinkan terjadinya manifestasi dari penyakit salah satunya mudahnya terinfeksi virus. Salah satu contoh pada infeksi herpes virus, stres dapat menurunkan jumlah dan persen sel darah putih yang bersirkulasi, kadar imunoglobulin, dan titer antibodi (4).

Psikolog di bidang "psychoneuroimmunology" telah menunjukkan bahwa keadaan pikiran mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Dikutip dari American Asosiation Physicology  tentang penelitian yang dilakukan oleh psikolog Janice Kiecolt-Glaser, PhD, dan imunolog Ronald Glaser, PhD, dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Ohio tentang tingkat stress pada mahasiswa kedokteran melalui simulasi tabung reaksi. Mereka menemukan bahwa kekebalan siswa turun setiap tahun pada periode ujian tiga hari. Peserta tes memiliki lebih sedikit sel pembunuh alami, yang melawan tumor dan infeksi virus. responden hampir berhenti memproduksi interferon gamma yang meningkatkan imunitas dan sel T yang melawan infeksi dengan respon lemah.

Nah..jika kepanikan berlanjut dan terjadi terus menerus akibat penyebaran covid 19, maka mungkin dapat memicu penurunan respon kekebalan tubuh terhadap virus ini. Untuk itu, tetap tenang dan ikuti anjuran Pemerintah sehingga langkah-langkah pengatasannya dapat selaras dan sinergi pada pergerakan tubuh terutama saraf simpatis. Stay cool ya guys ;).

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam analisa ini kurang lebihnya dapat kita pelajari bersama😉

Nurhidayati Harun., M.Farm., Apt
Farmasi Klinik, Prodi D3 Farmasi STIKes Muhammadiyah Ciamis

1. Segerstrom Suzanne C, E MG. Psychological Stress and the Human Immune System: A Meta-Analytic Study of 30 Years of Inquiry. Psycol Bull. 2004;4.
2. Dhabhar FS. Enhancing versus Suppressive Effects of Stress on Immune Function: Implications for Immunoprotection versus Immunopathology. Allergy, Asthma Clin Immunol. 2008;4(2).
3. Yaribeygi  et al. The impact of stress on body function: A review. Excli. 2017;16.
4. Salleh MR. Life Event, Stress and Illness. Malaysia, J Med Sc. 2008;4.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: APAKAH STRES DAPAT MENURUNKAN IMUNITAS ? Rating: 5 Reviewed By: Redaksi Ciamismu