Latest News
Selasa, 03 Maret 2020

Koping Stress pada Mahasiswa Tingkat Akhir



Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri dari sekolah tinggi, akademi dan yang paling umum adalah Universitas. Lama pendidikan kuliah berbeda beda sesuai dengan pilihan study yang akan diambil seperti D3, S1, S2 atau S3. Hanya saja dalam kasus akhir cerita sebagai seorang mahasiswa kebanyakan dari mereka memiliki masalah yang sama yaitu tress yang sering melanda mahasisa tingkat akhir.

Mahasiswa tingkat akhir adalah sebutan bagi mahasiswa yang sudah semester 7/8 bagi Sarjana dan semester 5/6 bagi Vokasi itu sebagai salah satu contoh, mahasiswa akan banyak dibebankan dengan tugas-tugas yang sangat menyusahkan ditambah dengan jam kuliah yang tidak sesuai dengan jadwal. Bagi sebagian orang yang tidak pernah merasakan perkuliahan akan mempertanyakan “mengapa banyak mahasiswa akhir yang terlihat stress dengan kuliahnya? Padahal, seharusnya mereka bahagia karena sebentar lagi akan segera lulus dan wisuda. Tapi kenapa mereka menjadi terlihat seperti orang yang linglung?” Karenan tekanan, itulah jawabannya.
Beban berat yang mereka pikul sangatlah luar biasa, mulai dari tumpukan tugas yang semakin hari semakin menjadi seperti bukit, ditambah dengan penelitian yang tidak usai reda seperti derasnya air hujan. Ketika sinar mentari mulai terlihat dan jiwa mulai merasakan kehangatannya itulah sebuah harapan skripsi akan segera dosen pembimbing acc. Tapi ternyata? Mengerjakan tugas penelitian dan mengejar-ngejar sang dosen pembimbing sampai berminggu-minggu agar bisa cepat wisuda ternyata tidak ada perkembangan. Sekalipun kami temui sang maha luar biasa dosen pembimbing tercinta ternyata kejadian lain datang silih berganti, lebih miris dan menyayatnya lagi semua perjuangan itu selalu berakhir dengan coretan-coretan pada kertas skripsi dan perkuliahan kembali secara pribadi dengan mata kuliah sang dosen pembimbing.
Belum lagi jika bertemu dengan teman-teman seangkatan yang sudah wisuda atau yang akan melanjutkan kuliahnya dan bahkan mereka yang telah memiliki keturunan, hingga yang karirnya telah sukses, sedangkan disisi lain sang mahasiswa tingkat akhir tersenyum pahit mendengar kabar tersebut, karena naskah skripsinya hanya mengulang-ngulang di bab 2 ini menjadi tambahan beban batin bagi para mahasiswa tingkat akhir. Kejadian lebih parahnya lagi saat sedang kumpul keluarga yang seharusnya menjadi moment membahagiakan tetap saja ada yang merusak suasana dengan kata-kata yang sangat sulit untuk diterima dan sulit dicerna oleh lambung dan usus sang mahasiswa tingkat akhir, yaitu "kapan kamu akan sidang?", "kapan akan diwisuda? " dan bahkan “kapan kamu menikah?”. Pertanyaan yang akan sangat sulit dijawab oleh mahasiswa tingkat akhir dengan keadaannya saat ini yang terhambat di bab 2 skripsinya. Pertanyaan tersebut bahkan dijuluki sebagai pertanyaan "keramat" oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir ini. Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan ini, akan membuat seseorang semakin frustasi dan memaksakan diri untuk menyelesaikan pendidikan dibangku perkuliahan. Sehingga pada titik inilah kita dapat mengetahui tanda seseorang yang sedang stress karena kita tahu, tidak semua hal yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Itu juga berlaku saat kita mengerjakan skripsi, sehebat apapun, serajin apapun dan sebisa apapun kita mengerjakannya, faktor jenuh dan bosa akan selalu menghampiri dan tak dapat dihindari. Sehingga kondisi ini benar-benar membuat mahasiswa tingkat akhir merasakan stress tingkat tinggi.
Lalu apa itu stress? Stress merupakan ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi mental, fisik, emosional dan spiritual manusia yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan manusia baik secara fisik maupun psikologis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2002, stress disebabkan oleh naluri tubuh untuk melindungi diri dari tekanan emosi, tekanan fisik, situasi ekstrem, atau bahaya yang mengancam.
Maka dari itu, kita tidak bisa sembarangan menjudge dan meremehkan mereka yang menderita stress. Karena pada umumnya setiap mahasiswa tingkat akhir akan mengalami masa masa stress sesuai dengan tingkatannya masing-masing, ada mahasiswa dengan tingkat stress ringan, sedang bahkan berat. Stress sifatnya universiality, yaitu umum bagi semua orang sama dapat merasakannya, tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity, sehingga dampak dari stress dapat menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan pada tubuh.
Lalu kenapa stress menjadi reaksi dari berbagai macam situasi? Jadi, ketika tubuh merasakan stress otot tubuh akan menegang, ketegangan otot ini menjadi reflex yang menandakan bahwa tubuh anda memberikan sinyal adanya stress. Saat otot menegang untuk jangka waktu yang lama keadaan ini dapat memicu reaksi pada tubuh dan menimbulkan beberapa keluhan otot, seperti ketegangan pada area bahu, leher, atau migraine. Stress dapat membuat anda kesulitan bernapas, hal ini mungkin tidak terjadi pada kebanyakan orang namun seseorang yang memiliki riwayat penyakit asma atau sakit paru-paru akan kesulitan mendapatkan oksigen untuk bernapas dengan normal dalam keadaan stress, bahkan terkadang stress dapat menyebabkan seseorang mengalami hiperventilasi  atau kondisi bernapas  cepat dan berlebih.
Hipotalamus memberikan tada kepada system saraf otonom dan kelenjar pituitary untuk memproduksi kortisol dan epinefrin ketika tubuh mengalami stress. Ketika kortisol dan efoneprin diproduksi hati pun memproduksi lebih banyak glukosa, sehingga gula darah akan meningkat untuk memberikan energi bagi anda untuk melawan stressor, hanya saja jika energi ekstra yang telah dikeluarkan oleh tubuh tidak digunakan maka tubuh akan menyerap kembali gula darah tersebut sehingga orang yang rentan mengalami diabetes  dapat meningkatkan resiko munculnya penyakit tersebut. Stress akut yang muncul akibat situasi jangka pendek dapat menyebabkan penekanan detak jantung dan kontraksi otot jantung sehingga tekanan darah pun meningkat, misalnya ketika mendapatkan  deadline kerja dadakan atau tiba-tiba lihat tindakan dosen pembimbing corat-coret skripsi, dapat meningkatkan detak jantung kita. Perlu diperhatikan bahwa detak jantung yang meningkat secara menetap dan kenaikan pada hormone stress atau tekanan darah dapat meningkatkan terkena hipertensi dan serangan jantung.
Sehingga otak menjadi lebih waspada terhadap sensasi yang muncul diperut ketika mengalami stress, kita akan merasa mual atau timbul sakit lainnya pada area perut dan pada kondisi stress yang berat dapat memungkinkan bagi anda untuk mengalami muntah. Saat stress pencernaan dapat terpengaruh sehingga berdampang pada seberapa cepat makanan dicerna didalam tubuh. Keadaan lain yang mungkin terjadi, yaitu diare atau konstipasi.
Maka untuk menangani atau mengelola stress agar tidak berdampak pada tingkat kesehatan yang semakin menurun, lakukanlah pola hidup sehat, seperti olah raga minimal sehari 15 menit karena dengan olah raga misalnya lari dapat merelaksasi tubuh, pikiran dan membantu memperbaiki mood, meningkatkan produksi endorphin (hormone bahagia) dan membantu menyalurkan pikiran-pikiran negative dengan cara sehat. Kemudian bisa dengan memelihara binatang, karena berinteraksi dengan binatang bisa membantu tubuh untuk melepaskan hormone oxytocin dan menurunkan level kortisol. Sesekali pergilah untuk berlibur ke tempat yang kita sukai, karena denga begitu tingkat kecemasan dan ketegangan pada otak kita akan menurun karena kita telah memberikan kesempatan untuk pikiran kita kembali dalam suasana tentram dan damai. Dan yang terakhir jagalah diri kita dengan cara istirahat tidur yang cukup dan senantiasa mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.
Semua tekanan yang sering dialami oleh mahasiswa tingkat akhir ini, jika diri kita mampu mengatasinya dengan baik maka pelarian-pelarian negatif dari rasa stress itu akan beralih ke hal-hal yang positif. Memang pendidikan di Indonesia saat ini sangat ketat dan membuat banyak mahasiswa tingkat akhir, akhirnya memilih untuk menyerah dan tidak sedikit pula yang memilih bunuh diri agar tidak membebani kularganya sehingga harus selalu diingat bahwa mulailah membiasakan untuk belajar mengontrol diri, karena hari ini dimana engkau berada adalah ketika hasil pemikiranmu menghampiri dan esok adalah hari manakala pemikiranmu hari ini akan menghasilkan (Quutut Tahhakum fidz Dzat). Dan satu hal, jangan pernah menghakimi orang-orang yang sedang dalam kondisi terpuruk atau pun stress dengan sesuka hati, karena jika pun hari ini kamu merasa tegar dan baik-baik saja, itu bukan semata karena kuat tapi karena kemurahan hati dan kasih sayang Allah lah yang ingin lebih lama melihatmu terus beribadah, berdoa dan memohon ampunan kepada-Nya. Berikanlah motivasi kepada mereka agar tetap bersabar dan semangat dalam mengemban tugas-tugasnya sebagai mahasiswa karena dalam tugas-tugas dan tanggung jawab tersebut, akan ada fase yang lebih sulit lagi kedepannya.
 Oleh: Windi Oktavia & Reffi Nantia Khaerunnisa


Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM CIAMIS RAYA
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Koping Stress pada Mahasiswa Tingkat Akhir Rating: 5 Reviewed By: Redaksi Ciamismu